Mata Hatiku

Hai! Namaku Chrysanova. Selamat datang dib log Mata Hatiku. Blog ini dibuat untuk menampung beberapa tulisanku sekalian buat “pamer”,hehehe. Buat kalian yang udah repot-repot datang,kenapa nggak kalian sumbangin komentar biar ke depannya kita semua bisa nikmatin cerita yang lebih bagus di sini. OK,segitu aja dari aku. Selamat membaca ya. Thanks a lot.

Guest Book

click here to fill it

Minggu, 12 Februari 2012

Misteri Kantin Kartunet



“Bu Kantin, saya mohon petunjuk Ibu untuk mempersiapkan barang untuk besok.”
***
Mendengar kata-kata yang tidak diucapkan dengan sopan santun ala istana itu sang wanita tidak kehilangan senyumnya. Dari suara yang tadi didengarnya ia tahu bahwa yang ada di hadapannya ini adalah April, seorang karyawan baru di kantin Kerajaan Kartunet. Tidak heran jika April masih kesulitan beradaptasi dengan kehidupan istana yang penuh dengan disiplin tatakrama itu mengingat keberadaannya yang baru sebulan di sini.  Wanita yang dipanggil Bu Kantin itu tidak kehilangan kesabaran. Suaranya tetap tenang ketika ia memberikan petunjuk pada April tentang apa saja yang perlu dipersiapkan. April masih bergerak-gerak gelisah pertanda ia masih khawatir tidak bisa melakukan tugasnya dengan baik. Ibu Kantin dapat mengetahui kegugupan gadis itu dari gemerisik kain kebaya yang diSirainya.

“Tenang saja, Sayang. Sebentar lagi aku akan turun ke dapur untuk mengecek kelengkapan persediaan kita.”
***
Mendengar kata-kata itu April menghembuskan napas lega. Bu Kantin memang baik hati, pikirnya. Mendadak Ibu Kantin menyadari sesuatu. Bagaimanapun, mata April masih awas.

“Sudah, lanjutkan pekerjaanmu,” ujarnya. April mengangguk lalu cepat-cepat kembali ke dapur. Ibu Kantin cepat-cepat menutup pintu kamar. Komputer yang tadi dibiarkannya dalam keadaan menyala masih setia menunggu di tempat semula. Hanya saja sekarang komputer itu membisu. Untung saja, pikir Ibu Kantin. Data yang sedang ia buka adalah data rahasia yang tidak boleh terdengar orang lain.
***
Belum lama Ibu kantin menyibukkan diri di depan komputer kembali terdengar ketukan di pintu. Kali ini Ibu kantin bersikap lebih hati-hati. Jemari lentik wanita yang berusia 230 tahun itu bergerak dengan cepat mematikan komputer. Di usianya itu wanita yang biasa memakai kebaya merah itu terlihat muda dan cantik. Memang usia 230 tahun terhitung masih muda di Kerajaan Kartunet. Segera ia membuka pintu. Seorang wanita berkebaya yang membawa sebuah map berdiri di depan pintu. Begitu mendengar suara pintu dibuka ia segera memperkenalkan diri sebagai salah satu petugas dari Kementerian Keuangan Kerajaan Kartunet.

“Anda diminta menghadap sang menteri untuk melaporkan data keuangan kantin,” ujarnya dengan lancar dan sistematis.

“Baik,” jawab Ibu kantin. Ia masuk kembali ke kamarnya dan menelusuri rak di bawah meja komputernya yang berisi piringan CD yang berjejer rapi. Setelah menemukan apa yang dicarinya dari sana ia menarik sebuah piringan CD yang bertanda LK 11 pada kemasan karton yang melindungi CD itu dari debu. Ia membawanya menghadap Menteri Keuangan yang bernama Lady Mariana. Lady Mariana sedang duduk menghadapi meja kerjanya. Setelah mendengarkan laporan singkat dari wanita pengurus logistik kerajaan itu ia memasukkan CD yang diterimanya dari Ibu kantin ke seperangkat PC yang terletak di meja kerjanya lalu membuka file yang ada di sana.

“Sepertinya tahun ini tidak begitu baik,” ujarnya setelah menyimak keseluruhan data itu.

“Banyak pengeluaran tak terduga yang menyebabkan defisit.”

Sang ibu kantin mengiyakan.

“Memang benar. Tahun ini banyak sekali yang berhutang ke kantin. Apalagi beberapa minggu yang lalu Menteri Pendidikan juga meminjam dalam jumlah besar untuk mendirikan perpustakaan.”

“Begitu?” Mata Lady Mariana terbelalak. Ia hampir tidak dapat mempercayai pendengarannya tadi.

“Sir Roy? Tapi kukira kami telah mengucurkan dana yang cukup besar untuk itu. Kau tidak bohong kan?”

“Tidak. Sebaiknya Anda konfirmasikan saja kepada beliau kalau Anda tidak percaya.”

Pertemuan itu pun berakhir setelah beberapa pertanyaan lagi. Bu kantin keluar dari ruangan itu dengan mengulum senyum. Seolah ada sesuatu di kepalanya yang tidak ia beritahukan kepada Lady Mariana.
***
Sementara itu di seberang lautan seorang pria sedang duduk dengan dahi berkerut. Ia bingung. Cuaca buruk yang tidak putus-putusnya menyebabkan semua penerbangan dibatalkan. Padahal ia harus segera pulang. Sebagai Menteri Pendidikan Kerajaan Kartunet banyak sekali hal yang harus diurusnya. Semua itu menumpuk di kantornya di istana sementara ia duduk gelisah di sini menunggu cuaca membaik. Untuk kesekian kalinya pria itu meraih netbook yang tersimpan di dalam tasnya. Ia memasang modem dan membuka internet. Dengan media itulah ia memberi kabar ke istana tentang alasan keterlambatannya untuk pulang. Sementara ia berusaha mengirim pesan itu badai menampar-nampar jendela. Petir menggelegar dengan suara yang nyaris menggetarkan ruang tunggu dimana Sir Roy berada.  Kondisi itu menyebabkan Sir Roy nyaris tidak bisa mendengar suara yang keluar dari komputernya. Namun…

“Error lagi,” keluh sang Menteri. Koneksi yang lambat sejak beberapa menit yang lalu ternyata berakhir begini. Tanpa menyerah ia mencoba lagi dan lagi. Namun hasilnya tetap sama. Dengan bingung bercampur kecewa ia memasukkan kembali netbook itu ke dalam tas. Semua saluran komunikasi menuju istana telah terputus. Sir Roy merasa seperti orang yang terapung-apung di laut lepas. Ia merasa terpencil dan terasing dari dunia luar tanpa adanya alat komunikasi. Ia meraba handphone yang mendekam dengan aman di sakunya. Benda itu juga tidak berfungsi. Wilayah Kerajaan Kartunet ini sungguh luas. Daerah ini terletak sangat jauh dari istana, bahkan bisa dikatakan bahwa daerah dimana Sir Roy berada sekarang ini berada di salah satu ujung wilayah kerajaan yang berseberangan dengan istana. Bukan hanya jarak yang memisahkan daerah ini dengan istana melainkan juga lautan yang terbentang luas. Sehingga wajar saja jika operator ponsel yang digunakan di daerah sekitar istana tidak bisa digunakan di sini karena tidak adanya sinyal. Demikian pula sebaliknya. Tempat ini seperti di ujung dunia, keluh Sir Roy.
***
Sir Roy juga tidak tahu bahwa Lady Mariana juga kesulitan menghubunginya. Wanita yang menjabat Menteri Keuangan itu hendak meminta keterangan dari rekannya itu tentang dana pembangunan perpustakaan tersebut. Namun lagi-lagi hanya operator yang menjawab bahwa telepon Sir Roy tidak aktif.

“Kau menjalankan tugasmu dengan baik. Ini hadiah yang kujanjikan,” ujar ibu kantin kepada seorang pria yang berdiri di hadapannya. Pria itu menatap ibu kantin dengan kagum. Wanita ini hebat, batinnya. Walaupun tunanetra ia dapat mengurus segalanya dengan baik. Pandangan pria yang berprofesi sebagai pengamat cuaca itu beralih dari ibu kantin ke bungkusan yang baru saja diletakkan di atas meja. Ia lalu memeriksanya sekilas. Matanya bercahaya ketika ia mendapati tumpukan uang di dalamnya. Sungguh tidak sia-sia ia memberitahu Ibu kantin kapan akan terjadinya cuaca buruk di seberang lautan. Tentu saja ia tidak tahu tujuan wanita itu yang ingin memanfaatkan kondisi cuaca untuk menutupi kejahatannya sendiri.
***
Di salah satu ruangan di dalam istana Sir Riqo de Kartunet sedang sibuk dengan komputernya yang mendadak dipenuhi virus. Dari mana virus-virus ini berasal? Benar-benar ganas. Semuanya kacau dan tidak ada antivirus yang bisa melawannya. Sir Riqo mendengus kesal. Kalau sudah begini tidak ada jalan lain selain diformat ulang. Ketika sedang sibuk mengutak-atik komputernya ingatan kepala dewan seniman istana itu melayang kepada hari sebelumnya. Ada sebuah email aneh yang mampir di inbox emailnya. Beberapa saat kemudian ia baru sadar. Pasti email itu berisi virus, pikirnya. Sebuah sapaan mendadak membuyarkan konsentrasinya.

“Eh, lo lagi ngapain?” Sesosok pria berjalan menghampirinya. Ternyata itu Baron van Banteng, sahabatnya yang berkedudukan sebagai juru bicara istana. Sir Riqo lalu menjelaskan apa yang sedang diperbuatnya.

“Payah ni virus,” gerutunya. Baron van Banteng merasa tertarik.

“Virus apaan?”

Sir Riqo lalu menjelaskan karakteristik virus itu. Dahi Baron van Banteng berkerut. Ia teringat virus ciptaannya sendiri yang akan digunakannya untuk menciptakan antivirus yang ampuh sebagai bekal bagi Sir Aris sang panglima perang untuk memperkuat pertahanan benteng cyber kerajaan Kartunet. Tapi mana mungkin itu ciptaannya. Tidak ada yang bisa menggunakan netbooknya tanpa seizinnya. Maka tidak mungkin ada yang mengcopy file virus tersebut. Setelah komputer Sir Riqo pulih kembali kendatipun banyak file yang hilang mereka lalu menyelidiki email aneh yang kemarin diterima Sir Riqo. Kali ini mereka lebih hati-hati. Mereka tidak membuka email itu lagi melainkan langsung menyelidiki alamat pengirim. Dengan keahlian mereka Baron van Banteng dan Mr. Riqo berhasil membuka inbox email pengirim. Tidak lama kemudian mereka terkejut bukan kepalang. Rasanya petir yang menggelegar di luar belum seberapa jika dibandingkan dengan kejutan yang mengguncang jantung mereka. Sir Riqo lebih lagi. Ia tidak bisa mempercayai pendengarannya.

“Ibu kantin?” seru mereka bersamaan.

“Untuk apa dia melakukan ini?” bisik Baron van Banteng yang dengan segera menjadi pucat. Keterkejutan, kemarahan, dan rasa penasaran tercermin di wajahnya.
***
Sir Riqo melompat dari kursinya. Wajahnya merah padam karena ia kehilangan data-data penting yang belum sempat dibuat backupnya.

“Kita harus tanya padanya,” ujarnya dengan napas memburu. Kalau saja ada orang yang melihatnya saat itu mereka pasti terkejut setengah mati. Ia hendak membuka pintu namun Baron van Banteng mencegahnya.

“Tunggu,” ujarnya. “Ada yang aneh. Untuk apa dia menghubungi orang-orang ini?”

Di sana mereka menemukan email dari seseorang yang menggunakan alamat email Badan Meteorologi dan Geofisika Kerajaan Kartunet. Email itu berisi ucapan terima kasih atas hadiah yang diberikan ibu kantin. Mereka juga menemukan email lain dari pengirim yang sama, yang memaparkan kondisi cuaca di suatu tempat di seberang lautan. Baron van Banteng segera ingat bahwa tempat itu adalah tempat tujuan Sir Roy dalam tugas kunjungannya kali ini. Di dalam email itu mereka menemukan data lengkap keadaan cuaca dari mulai tekanan udara, curah hujan dan kapan tepatnya akan terjadi badai.

“Jadi sekarang ini di sana sedang ada badai!” desis Baron van Banteng. Sir Riqo menggumam pelan, “Jadi itu sebabnya Sir Roy tidak bisa dihubungi.”

“Apa?” Baron van Banteng terkejut.

“Dalam laporan keuangan kantin tadi siang Lady Mariana menemukan defisit yang cukup besar. Kata ibu kantin itu disebabkan oleh Sir Roy yang meminjam dana cukup besar untuk pendirian perpustakaan. Lady Mariana agak ragu karena kerajaan sudah mengalokasikan dana untuk itu sehingga mustahil rasanya dana itu kurang. Lalu ibu kantin mengusulkan agar Lady Mariana bertanya sendiri pada Sir Roy, namun sampai sekarang beliau tidak bisa dihubungi.”
***
Selain itu juga ada surat lain dari petugas bandara di seberang lautan yang mengabarkan bahwa semua penerbangan hari itu dibatalkan karena cuaca buruk. Maka pesawat yang rencananya akan membawa Menteri Pendidikan kembali ke ibukota juga tidak dapat berangkat karena cuaca tidak memungkinkan.  Ada juga surat dari seseorang yang mengabarkan bahwa ia berhasil mengundurkan waktu keberangkatan Menteri Pendidikan sampai beberapa hari sebelum puncak cuaca buruk.

“Jadi bisa dipastikan bahwa beliau tidak bisa langsung pulang ke ibukota setelah kunjungannya selesai.” Komputer Sir Riqo berbicara sendiri di tengah deru hujan. Mr. Riqo dan Baron van Banteng tidak bisa berkata-kata. Mereka diam sambil sibuk mencerna isi email itu.

“Apa artinya ini?” tanya Baron van Banteng yang sangat kecewa karena Ibu kantin ternyata telah mencegah Sir Roy pulang tepat waktu. Tapi untuk apa?
***
Seorang wanita berkebaya merah lari tunggang langgang seperti dikejar setan. Ia tidak tahu ke arah mana ia berlari. Semak dan ranting-ranting yang tajam menggores kulitnya namun ia tidak sempat merasakannya. Siraiannya juga robek di beberapa tempat karena dahan-dahan itu. Bu kantin terus berlari memasuki hutan lebat. Rencananya berantakan. Tadi Sir Riqo dan Baron van Banteng menemuinya. Mereka ternyata sudah tahu semuanya. Defisit keuangan kantin bukan disebabkan oleh hutang Sir Roy seperti yang ia bualkan, melainkan karena tindakan korupsi yang ia lakukan.  Tidak ia sangka tindakannya mencuri file virus dari komputer Baron van Banteng berbalik menyerang dirinya sendiri. Tadinya ia mendengar bahwa Sir Riqo baru saja mendapat software hacking generasi terbaru. Bu kantin takut Sir Riqo akan menng –hack data-datakeuangannya sehingga ia nekat mengirimkan virus tersebut. Dan tadi kedua seniornya itu saling berbantahan tentang perlu tidaknya perbuatan Ibu kantin itu dilaporkan kepada Mahaprabu Dimas. Dan saat mereka berbantahan itulah Ibu kantin memanfaatkan kesempatan untuk melarikan diri. Ia tidak sanggup terus berada di istana dan menyaksikan kejahatannya terkuak kepada umum.  Ia memang sudah berencana untuk kabur dari istana sebelum Sir Roy pulang dan iapun sudah menyiapkan villa yang nyaman di luar negeri, namun ternyata semuanya berantakan. Ia terSirsa pergi seperti tikus ketakutan gara-gara kondisi yang di luar dugaan. Siapa yang menduga bahwa kejahatannya justru terkuak oleh sahabatnya sendiri? Sungguh tidak terkatakan betapa malunya ia. Cepat atau lambat semua pasti akan terbongkar kepada umum karena Sir Roy pasti akan pulang dan mengatakan pada Lady Mariana bahwa ia tidak pernah berhutang sebesar itu kepada kantin. Ia memang sering berhutang namun itu tidak lebih dari sepiring nasi goreng dan segelas kopi. Karena keangkuhannya yang begitu besar Ibu kantin tidak suka mengakui dan meminta maaf. Selain itu pastilah penjara telah menunggunya. Bahkan mungkin tiang gantungan.
***
Ibu kantin menjerit saat kakinya tersandung di rumput-rumput tebal yang seolah menjeratnya. Ia terjatuh namun ternyata di depannya berdiri sebuah pohon besar. Maka tak terelakkan lagi kepalanya terbentur pada batang pohon itu. Ia merintih tanpa bisa bergerak. Kepalanya berdarah. Pandangannya berkunang-kunang namun ia masih dapat merasakan tanah di bawahnya bergetar. Bum, bum, bum. Seolah ada raksasa yang sedang berjalan menuju ke arahnya. Hal itu terpikir pula oleh Ibu kantin yang segera beringsut secepat mungkin dengan sisa tenaganya. Kepalanya sakit sekali seperti mau pecah. Ia tidak menyadari ada seekor naga yang berdiri tidak jauh di belakangnya. Naga itu sangat besar. Tingginya mencapai lima belas metar. Bu kantin baru sadar saat ia mendengar makhluk itu menggerung seperti gunung berapi yang hendak meletus. Tapi apa daya wanita berkebaya merah itu tidak bisa bergerak lagi. Naga yang tertarik dengan bau darah yang mengalir di kepala Ibu kantinpun membuka mulut lalu secepat kilat ia menyambar ke bawah. Napas ibu kantin mendadak sesak ketika bau busuk menerjangnya bersamaan dengan hujaman gigi-gigi runcing si naga. Ia menjerit namun tentu saja tidak ada yang mendengarnya. Lendir panas berbau busuk membuatnya pingsan sementara ia terhisap masuk ke kerongkongan si naga.
***
Sir Riqo dan Baron van Banteng berdiri kebingungan di luar istana. Mereka yang tadi berdebat tentang perlu tidaknya tindak korupsi ini dilaporkan mendadak menyadari bahwa Ibu kantin menghilang. Mereka mencari ke mana-mana namun nihil. April yang turut membantu pun tidak dapat menemukan atasannya itu di mana-mana. Mendadak mereka mendengar suara menggeram yang menggetarkan daratan. April menjerit.

“Ada monstter!” Dengan sisa penglihatannya Sir Riqo langsung melihat ke arah yang ditunjuk April. Ia segera berteriak memperingatkan seluruh penghuni istana. Segera saja kepanikan terjadi, namun Sir Aris sang panglima perang segera datang. Dengan lantang ia menyuruh para penghuni istana agar tetap di dalam sementara ia menekan sebuah tombol di remote control yang dibawanya. Sebuah pintu besar di benteng yang mengelilingi istana menggeser terbuka tanpa suara. April ternganga. Ternyata di balik benteng itu ada sebuah ruangan besar yang menjorok masuk di dinding yang amat tebal itu. Dari dalamnya sebuah meriam meluncur keluar secara otomatis di atas rangkaian roda. Dengan berkonsentrasi ke arah datangnya suara geraman Sir Aris mengarahkan moncong meriam. Sesaat kemudian terdengar bunyi tembakan dan tubuh naga itu pun roboh.

“Tuan, awas!!!” teriak April sambil menarik tangan Baron van Banteng. Sir Riqo yang melihat tubuh naga yang roboh ke arah mereka melompat mundur tepat pada waktunya. Dengan bunyi debam keras naga itu pun terkapar. Sir Riqo yang sangat terkejut karena nyaris saja tertimpa tubuh naga menebaskan pedangnya dengan marah. Maka terpisahlah kepala sang naga dari tubuhnya. Bau amis darah segera menguar di udara. Beberapa penghuni istana yang mengetahui matinya naga itu bersorak sorai. Namun di antara kehebohan itu April menjerit karena melihat sesosok tubuh di dalam kerongkongan naga yang telah ditebas putus oleh Sir Riqo.

“Ibu kantin!” jeritnya. Segeralah mereka memanggil para petugas kesehatan yang lalu datang tanpa dipanggil dua kali. Mereka membebaskan tubuh Ibu kantin dari kerongkongan naga. Kondisinya sangat memprihatinkan. Berlumur lendir lengket berbau busuk dan Siraian serta rambutnya pun acak-acakan.

“Bagaimana keadaannya?” tanya April, Baron van Banteng, dan Sir Riqo bersamaan. Meski kedua orang yang disebutkan terakhir ini mengetahui kesalahan besar Ibu kantin, namun mengetahui kondisi itu mereka tidak tega karena hampir seluruh penghuni istana sudah seperti keluarga sendiri, termasuk Ibu kantin. Sang dokter melepas masker dan kacamatanya lalu menjawab muram bahwa Ibu kantin sudah tidak ada lagi.
***
Satu minggu setelah kejadian itu terlihat tiga sosok melangkah menyusuri jalanan menuju pekuburan kerajaan. Mereka lalu menghampiri sebuah nisan bertuliskan Ibu kantin. Selamanya ia memang orang yang misterius. Tidak ada orang yang tahu nama aslinya. Baron van Banteng dan Sir Riko ketika itu sepakat untuk tidak melaporkan perbuatan Ibu kantin kepada sang Mahaprabu. Biarlah hal itu tetap menjadi rahasia karena ibu kantin sudah mendapat hukumannya sendiri. Di samping kesalahannya ia juga telah banyak berjasa bagi kerajaan sehingga ia dimakamkan secara terhormat di pekuburan istana. Keuangan kantin pun pulih kembali setelah ditutup dengan uang dari tabungan ibu kantin yang diambil alih oleh pihak kerajaan karena ibu kantin tidak mempunyai ahli waris. Demikianlah kerajaan kembali makmur dan sejahtera. Baron van Banteng dan Sir Riqo pun tidak pernah membicarakan kasus itu lagi. Bagi mereka itu hanyalah sebuah rahasia yang hanya diketahui oleh dua orang saja, yaitu Baron van Banteng dan  Sir Riqo.***Tamat***

Senin, 16 Januari 2012

Cerita q (3)


Cerita Q (3)


Hai, ketemu lagi denganku di ambang hari yang cerah ini. Udara yang masih segar ini membawa efek positif bagi ingatanku yang langsung berjalan mundur melewati alur-alur waktu yang berwarna-warni dengan suka duka yang silih berganti. Seingatku aku sudah bercerita tentang awal perjalananku menuju dunia tunanetra. Kini saatnya bagiku melanjutkannya, yaitu ke akhir tahun 2004.

Ketika itu aku tinggal di rumah sakit selama dua minggu setelah menjalani operasi pengangkatan cairan pengganggu di kepalaku. Benar-benar masa yang tak terlupakan. Saat-saat aku harus bergulat dengan waktu yang terasa berjalan dengan luar biasa lambat. Berkurangnya daya penglihatanku menjadikan aku merasa bahwa hari-hariku di sana dipenuhi kebosanan. Bagaimana tidak? Aku tidak lagi bisa menjalankan kegemaranku membaca. Meskipun harus kuakui keadaan itu tidak selamanya membosankan. Sering aku mendapatkan mimpi-mimpi indah. Ingat bukan? Soal itu sudah kuceritakan di bagian kedua dari tulisanku ini. Mohon maaf jika aku terkesan memaksa, namun ini hanyalah untuk menjaga kesinambungan alur ceritaku.

Bukan itu saja. Orang tua dan saudara-saudara yang datang menjenguk secara bergantian membacakan berbagai hal untukku. Mulai dari koran, majalah hingga apapun yang dapat mereka temukan. Semua itu membuatku terhibur meski tidak seperti jika aku membacanya sendiri. Saat itu perlahan kusadari bahwa duniaku sudah berubah. Semula aku tidak begitu menyadarinya namun seiring perjalanan waktu aku tahu bahwa banyak sekali hal yang menjadi rutinitasku dahulu yang tidak dapat kulakukan lagi.

Contoh paling nyata adalah sekolah. Aku tidak bisa lagi pergi ke sekolah setiap hari seperti dulu. Karena itulah saat itu rasa sepi kian menekan. Teman-teman yang dulu biasa kutemui di sekolah kini tidak lagi bisa kutemui dalam keadaan biasa. Sekarang mereka seperti suara-suara tanpa wujud yang hanya bisa kurasakan hadirnya jika mereka berbicara. Itu pun tidak setiap hari terjadi karena kesibukan yang makin menjadi di sekolah membuat mereka makin jarang mengunjungiku.

Lama-kelamaan aku mulai mengerti bahwa sekarang ini aku tidak lagi bisa berbuat sesukanya seperti dulu. Tidak bisa lagi aku berharap terlalu banyak karena dibatasi oleh kepentingan orang-orang lain. Demikianlah Allah telah memberiku pengertian dengan cara yang unik. Aku yang dulu hampir selalu berbuat sesukanya tanpa memedulikan orang lain di sekitarku sekarang mulai mengerti bahwa orang-orang lain pun memiliki kehidupannya sendiri sehingga dalam interaksi sosial di antara kami aku harus menghargai mereka sebagaimana aku memandang diriku sendiri.  Mereka pun punya kesibukan yang menyebabkan mereka tidak bisa datang terlalu sering walaupun mereka ingin. Begitulah, dunia memiliki batasan-batasan yang saling terkait antara satu hal dengan lainnya. Semua hal ada alasannya masing-masing dan tidak ada pilihan lain bagiku selain mencoba memahaminya agar tidak melukai diri sendiri dengan kekesalan dan berbagai prasangka.

Salah satu orang yang dapat kuharapkan akan datang setiap hari adalah pamanku. Beliau harus datang untuk memantau kesehatan Nenek yang pada saat itu tinggal bersama denganku. Yang membuatku senang adalah kadang-kadang beliau membawa serta putra-putrinya yang kebetulan memiliki hobi yang sama denganku yaitu membaca. Dengan demikian mereka dapat membacakan buku untukku dan juga bercerita ini dan itu. Namun tentu saja sebagaimana lazimnya pelajar mereka juga sangat sibuk. Sekolah yang selalu menghujani mereka dengan segudang tugas itu mau tidak mau membuat mereka tidak bisa mengunjungiku setiap hari.

Pada saat sendirian itulah aku terpaksa mencari kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengusir kebosananku. Tidak jarang aku marah-marah nggak jelas karena sudah tidak tahu lagi apa yang mesti kulakukan. Kondisi itu mendorongku untuk pasrah. Aku belajar menerima keadaan meski sulit sekali rasanya.

Yang paling membuatku terpukul adalah dugaan bahwa aku tidak dapat lagi melanjutkan pendidikan. Rasanya sudah kusebutkan di bagian pertama bahwa aku dibesarkan di lingkungan keluarga yang sangat mengutamakan pendidikan sehingga sejak kecil aku telah dibiasakan dengan berbagai target. Ambisi dan cita-cita yang tinggi bukan barang aneh lagi bagi pikiranku waktu itu.

Tidak hanya aku. Semua kerabatku seperti paman ,bibi dan sepupu-sepupuku pun dididik dengan cara yang sama sehingga tidak mengherankan jika mereka dapat meraih prestasi yang mengagumkan bagiku. Ingin sekali aku seperti mereka. Sehingga saat itu aku sangat merasa putus asa. Aku merasa seolah dipaksa berpisah dengan cita-citaku. Itu benar-benar perasaan yang sangat berat. Namun orang tuaku terus memberikan dukungan moril kepadaku.  Mereka bilang bahwa apapun yang terjadi harus disyukuri karena pasti Allah punya maksud tertentu dengan menjadikanku seperti ini. Bukankah Dia yang Maha Kuasa selalu mengajari makhluk-Nya dengan cara yang tak terduga? Pasti ada rencana Allah yang belum kuketahui.

Lama-kelamaan aku semakin mengerti apa maksud kedua orang tuaku. Namun salah satu sisi hatiku selalu memberontak dengan berkata bahwa aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa berdiam diri terus seperti itu. Hingga pada suatu hari aku nekat meminta pada Mama untuk dibelikan buku tulis dan pensil. Ya, teman-teman tidak salah baca. Buku tulis dan pensil. Saat itulah aku mulai menuliskan apa yang bergolak di pikiranku. Tulisan yang sudah tergores di kertas itu tentu saja tidak dapat kubaca lagi namun apa peduliku? Yang penting aku punya kegiatan sekalipun hanya menulis sesuatu yang tidak bisa dibaca. Maksudku adalah tulisanku yang jelek pastilah tidak akan bisa dibaca oleh orang yang berpenglihatan sempurna sekalipun. Maklum, waktu itu aku sudah tidak menulis selama hampir dua tahun. Bisa dibayangkan bukan, betapa kakunya tanganku ketika itu?

Novel-novel terjemahan yang biasa kulahap sejak kecil memberi andil besar pada jalan cerita yang kutulis pada waktu itu. Sehingga saat itu aku terkejut sendiri ketika mencermati kalimat-kalimat yang bermunculan di otakku. Padahal ketika zaman sekolah tak sedikitpun terlintas pikiran untuk menulis. Kecuali cerpen yang kadang kutulis di sela-sela jam pelajaran. Ketahuan juga ya akhirnya kalau aku ini kadang mencuri waktu di kelas. Tapi jangan khawatir karena itu kulakukan setelah guru meninggalkan kelasku.

Kurang lebih selama empat tahun aku menganggur di rumah dengan keseharian yang tidak jelas. Aku mulai frustasi dengan kehidupanku yang serba tidak jelas ini. Memang selama empat tahun itu orang tuaku membawaku berobat ke mana-mana, mulai dari medis hingga pengobatan alternatif. Capek sekali rasanya montang-manting ke sana kemari sementara kehausanku akan kegiatan yang berguna tidak terpenuhi. Akhirnya pamanku yang baru saja pulang dari mengantarkan istrinya yang mengalami glaukoma ke sebuah rumah sakit memberitahuku mengenai bagian Low Vision di sana yang merupakan tempat latihan bagi orang-orang yang memiliki kelemahan dalam penglihatan sepertiku.

Singkatnya aku yang sudah menghentikan semua terapi pada waktu itu langsung inta diantar ke sana untuk sekedar mencari info bagaimana aku bisa mengisi waktuku. Dari sanalah akhirnya aku berkenalan dengan Yayasan Wyataguna. Benar-benar surprise rasanya waktu aku dianjurkan ke sana oleh rumah sakit itu karena sebenarnya aku dan orang tua sudah mengenal nama yayasan tersebut sejak dulu. Bahkan Mama ketika masih menjadi mahasiswi salah satu sekolah tinggi di Bandung sering bermain voli di GOR yang terletak di dekatnya.

Ketika datang ke sana rasanya luar biasa. Ternyata banyak sekali yang bisa kulakukan di sana. Bahkan kemudian aku diberitahu bahwa aku tidak harus melepas cita-citaku. Dengan semua fasilitas dan usaha keras semua itu tidak mustahil untuk dicapai. Sejak saat itu duniaku kembali terang.  Aku benar-benar merasa bersyukur karena perkataan kedua orang tuaku dulu terbukti sangat benar. Memang jalan hidup manusia tidak bisa ditebak sebelumnya. Allah memang Maha Pemurah. Dia memberiku kesempatan untuk mengetahui sisi lain dunia, yaitu dunia tunanetra yang bagiku justru penuh dengan seluk beluk dan permasalahan yang menuntut kita semua lebih mengoptimalkan segala potensi yang diberikan Allah kepada kita. Sungguh, ini adalah hal yang tidak ternilai harganya. Selalu ada hikmah yang terkandung di balik segala sesuatu yang dialami manusia. Selalu ada jalan yang tersedia jika kita mau mencarinya. Demikianlah segala sesuatu yang dilandasi keikhlasan dan rasa syukur akan selalu terasa manis.

Akhir kata mohon maaf ya atas semua kekurangan yang ada di tulisan ini. Sama sekali tidak ada maksud menggurui atau apa di sini. Aku hanya ingin sharing dengan semua teman yang berkenan membaca tulisan ini. Selamat berjuang bagi Anda semua. Hidup di dunia ini memang dipenuhi tantangan yang harus dihadapi dengan segenap kemampuan kita. Goodbye for a while.  See you later.

Jumat, 13 Januari 2012

Cerita Q(3)


Cerita Q (3)


Hai, ketemu lagi denganku di ambang hari yang cerah ini. Udara yang masih segar ini membawa efek positif bagi ingatanku yang langsung berjalan mundur melewati alur-alur waktu yang berwarna-warni dengan suka duka yang silih berganti. Seingatku aku sudah bercerita tentang awal perjalananku menuju dunia tunanetra. Kini saatnya bagiku melanjutkannya, yaitu ke akhir tahun 2004.

Ketika itu aku tinggal di rumah sakit selama dua minggu setelah menjalani operasi pengangkatan cairan pengganggu di kepalaku. Benar-benar masa yang tak terlupakan. Saat-saat aku harus bergulat dengan waktu yang terasa berjalan dengan luar biasa lambat. Berkurangnya daya penglihatanku menjadikan aku merasa bahwa hari-hariku di sana dipenuhi kebosanan. Bagaimana tidak? Aku tidak lagi bisa menjalankan kegemaranku membaca. Meskipun harus kuakui keadaan itu tidak selamanya membosankan. Sering aku mendapatkan mimpi-mimpi indah. Ingat bukan? Soal itu sudah kuceritakan di bagian kedua dari tulisanku ini. Mohon maaf jika aku terkesan memaksa, namun ini hanyalah untuk menjaga kesinambungan alur ceritaku.

Bukan itu saja. Orang tua dan saudara-saudara yang datang menjenguk secara bergantian membacakan berbagai hal untukku. Mulai dari koran, majalah hingga apapun yang dapat mereka temukan. Semua itu membuatku terhibur meski tidak seperti jika aku membacanya sendiri. Saat itu perlahan kusadari bahwa duniaku sudah berubah. Semula aku tidak begitu menyadarinya namun seiring perjalanan waktu aku tahu bahwa banyak sekali hal yang menjadi rutinitasku dahulu yang tidak dapat kulakukan lagi.

Contoh paling nyata adalah sekolah. Aku tidak bisa lagi pergi ke sekolah setiap hari seperti dulu. Karena itulah saat itu rasa sepi kian menekan. Teman-teman yang dulu biasa kutemui di sekolah kini tidak lagi bisa kutemui dalam keadaan biasa. Sekarang mereka seperti suara-suara tanpa wujud yang hanya bisa kurasakan hadirnya jika mereka berbicara. Itu pun tidak setiap hari terjadi karena kesibukan yang makin menjadi di sekolah membuat mereka makin jarang mengunjungiku.

Lama-kelamaan aku mulai mengerti bahwa sekarang ini aku tidak lagi bisa berbuat sesukanya seperti dulu. Tidak bisa lagi aku berharap terlalu banyak karena dibatasi oleh kepentingan orang-orang lain. Demikianlah Allah telah memberiku pengertian dengan cara yang unik. Aku yang dulu hampir selalu berbuat sesukanya tanpa memedulikan orang lain di sekitarku sekarang mulai mengerti bahwa orang-orang lain pun memiliki kehidupannya sendiri sehingga dalam interaksi sosial di antara kami aku harus menghargai mereka sebagaimana aku memandang diriku sendiri.  Mereka pun punya kesibukan yang menyebabkan mereka tidak bisa datang terlalu sering walaupun mereka ingin. Begitulah, dunia memiliki batasan-batasan yang saling terkait antara satu hal dengan lainnya. Semua hal ada alasannya masing-masing dan tidak ada pilihan lain bagiku selain mencoba memahaminya agar tidak melukai diri sendiri dengan kekesalan dan berbagai prasangka.

Salah satu orang yang dapat kuharapkan akan datang setiap hari adalah pamanku. Beliau harus datang untuk memantau kesehatan Nenek yang pada saat itu tinggal bersama denganku. Yang membuatku senang adalah kadang-kadang beliau membawa serta putra-putrinya yang kebetulan memiliki hobi yang sama denganku yaitu membaca. Dengan demikian mereka dapat membacakan buku untukku dan juga bercerita ini dan itu. Namun tentu saja sebagaimana lazimnya pelajar mereka juga sangat sibuk. Sekolah yang selalu menghujani mereka dengan segudang tugas itu mau tidak mau membuat mereka tidak bisa mengunjungiku setiap hari.

Pada saat sendirian itulah aku terpaksa mencari kegiatan yang bisa dilakukan untuk mengusir kebosananku. Tidak jarang aku marah-marah nggak jelas karena sudah tidak tahu lagi apa yang mesti kulakukan. Kondisi itu mendorongku untuk pasrah. Aku belajar menerima keadaan meski sulit sekali rasanya.

Yang paling membuatku terpukul adalah dugaan bahwa aku tidak dapat lagi melanjutkan pendidikan. Rasanya sudah kusebutkan di bagian pertama bahwa aku dibesarkan di lingkungan keluarga yang sangat mengutamakan pendidikan sehingga sejak kecil aku telah dibiasakan dengan berbagai target. Ambisi dan cita-cita yang tinggi bukan barang aneh lagi bagi pikiranku waktu itu.

Tidak hanya aku. Semua kerabatku seperti paman ,bibi dan sepupu-sepupuku pun dididik dengan cara yang sama sehingga tidak mengherankan jika mereka dapat meraih prestasi yang mengagumkan bagiku. Ingin sekali aku seperti mereka. Sehingga saat itu aku sangat merasa putus asa. Aku merasa seolah dipaksa berpisah dengan cita-citaku. Itu benar-benar perasaan yang sangat berat. Namun orang tuaku terus memberikan dukungan moril kepadaku.  Mereka bilang bahwa apapun yang terjadi harus disyukuri karena pasti Allah punya maksud tertentu dengan menjadikanku seperti ini. Bukankah Dia yang Maha Kuasa selalu mengajari makhluk-Nya dengan cara yang tak terduga? Pasti ada rencana Allah yang belum kuketahui.

Lama-kelamaan aku semakin mengerti apa maksud kedua orang tuaku. Namun salah satu sisi hatiku selalu memberontak dengan berkata bahwa aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak bisa berdiam diri terus seperti itu. Hingga pada suatu hari aku nekat meminta pada Mama untuk dibelikan buku tulis dan pensil. Ya, teman-teman tidak salah baca. Buku tulis dan pensil. Saat itulah aku mulai menuliskan apa yang bergolak di pikiranku. Tulisan yang sudah tergores di kertas itu tentu saja tidak dapat kubaca lagi namun apa peduliku? Yang penting aku punya kegiatan sekalipun hanya menulis sesuatu yang tidak bisa dibaca. Maksudku adalah tulisanku yang jelek pastilah tidak akan bisa dibaca oleh orang yang berpenglihatan sempurna sekalipun. Maklum, waktu itu aku sudah tidak menulis selama hampir dua tahun. Bisa dibayangkan bukan, betapa kakunya tanganku ketika itu?

Novel-novel terjemahan yang biasa kulahap sejak kecil memberi andil besar pada jalan cerita yang kutulis pada waktu itu. Sehingga saat itu aku terkejut sendiri ketika mencermati kalimat-kalimat yang bermunculan di otakku. Padahal ketika zaman sekolah tak sedikitpun terlintas pikiran untuk menulis. Kecuali cerpen yang kadang kutulis di sela-sela jam pelajaran. Ketahuan juga ya akhirnya kalau aku ini kadang mencuri waktu di kelas. Tapi jangan khawatir karena itu kulakukan setelah guru meninggalkan kelasku.

Kurang lebih selama empat tahun aku menganggur di rumah dengan keseharian yang tidak jelas. Aku mulai frustasi dengan kehidupanku yang serba tidak jelas ini. Memang selama empat tahun itu orang tuaku membawaku berobat ke mana-mana, mulai dari medis hingga pengobatan alternatif. Capek sekali rasanya montang-manting ke sana kemari sementara kehausanku akan kegiatan yang berguna tidak terpenuhi. Akhirnya pamanku yang baru saja pulang dari mengantarkan istrinya yang mengalami glaukoma ke sebuah rumah sakit memberitahuku mengenai bagian Low Vision di sana yang merupakan tempat latihan bagi orang-orang yang memiliki kelemahan dalam penglihatan sepertiku.

Singkatnya aku yang sudah menghentikan semua terapi pada waktu itu langsung inta diantar ke sana untuk sekedar mencari info bagaimana aku bisa mengisi waktuku. Dari sanalah akhirnya aku berkenalan dengan Yayasan Wyataguna. Benar-benar surprise rasanya waktu aku dianjurkan ke sana oleh rumah sakit itu karena sebenarnya aku dan orang tua sudah mengenal nama yayasan tersebut sejak dulu. Bahkan Mama ketika masih menjadi mahasiswi salah satu sekolah tinggi di Bandung sering bermain voli di GOR yang terletak di dekatnya.

Ketika datang ke sana rasanya luar biasa. Ternyata banyak sekali yang bisa kulakukan di sana. Bahkan kemudian aku diberitahu bahwa aku tidak harus melepas cita-citaku. Dengan semua fasilitas dan usaha keras semua itu tidak mustahil untuk dicapai. Sejak saat itu duniaku kembali terang.  Aku benar-benar merasa bersyukur karena perkataan kedua orang tuaku dulu terbukti sangat benar. Memang jalan hidup manusia tidak bisa ditebak sebelumnya. Allah memang Maha Pemurah. Dia memberiku kesempatan untuk mengetahui sisi lain dunia, yaitu dunia tunanetra yang bagiku justru penuh dengan seluk beluk dan permasalahan yang menuntut kita semua lebih mengoptimalkan segala potensi yang diberikan Allah kepada kita. Sungguh, ini adalah hal yang tidak ternilai harganya. Selalu ada hikmah yang terkandung di balik segala sesuatu yang dialami manusia. Selalu ada jalan yang tersedia jika kita mau mencarinya. Demikianlah segala sesuatu yang dilandasi keikhlasan dan rasa syukur akan selalu terasa manis.

Akhir kata mohon maaf ya atas semua kekurangan yang ada di tulisan ini. Sama sekali tidak ada maksud menggurui atau apa di sini. Aku hanya ingin sharing dengan semua teman yang berkenan membaca tulisan ini. Selamat berjuang bagi Anda semua. Hidup di dunia ini memang dipenuhi tantangan yang harus dihadapi dengan segenap kemampuan kita. Goodbye for a while.  See you later.

Kamis, 27 Oktober 2011

Cerita Q (2)


Tentu bukan itu saja pengalaman yang menandai akhir dari penglihatan normalku. Pernah pula aku terjatuh di jalan menuju kelasku. Jalan yang membentang mulai dari gerbang sekolah hingga ke pintu yang mengarah ke koridor-koridor di depan ruangan-ruangan kelas itu berlapis aspal sehingga sangat mulus untuk dilewati kendaraan. Namun tidak begitu halnya saat bersentuhan dengan kulit manusia. Aku yang terhuyung-huyung menahan berat tasku mendadak terhempas jatuh. Penyebabnya sama, kehilangan keseimbangan. Dan lututku yang mencium permukaan aspal  yang kasar dengan keras terluka. Luka besar yang cukup menjengkelkan karena tentu saja rasanya perih. Namun karena sudah mendekati waktu masuk kelas aku tidak sempat lagi merasakannya. Dengan tergesa-gesa aku berjalan ke kelas secepat yang bisa kulakukan dengan langkah terseok plus bonus luka di lutut. Sampai di kelas aku langsung duduk di kursiku. Luka di lututku tidak terlihat karena tertutup tepi bawah rok yang mencapai beberapa senti di bawah lutut. Berhubung guru untuk mata pelajaran pertama sudah datang maka aku tidak sempat pergi ke UKS untuk mengobati lukaku. Kupikir nanti saja deh. Dua jam pelajaran kukira tidak terlalu lama sehingga rasa perih di lutut masih bisa kutahan.

Tepat ketika itu guruku menyuruh siswa yang piket hari itu untuk membersihkan papan tulis yang belum sempat dihapus. Tanpa berpikir aku yang memang kebagian piket pada hari itu bangkit dan maju ke depan (mungkin juga refleksku itu dipengaruhi oleh otak yang merasa bersalah karena kesiangan, hehehe. Jadi otomatis aku tidak sempat ikut bekerja dengan regu piketku). Sebelum aku sempat menyentuh penghapus whiteboard sebuah teguran dari guru menyapa telingaku.

“Hei, itu kenapa kakinya?”

Rupanya beliau melihat luka yang berdarah di kakiku. Dengan agak malu aku menjawab  bahwa aku jatuh di depan tadi. Sambil bicara (dengan muka merah tentunya) Terbayang olehku pohon kaktus besar yang berdiri tidak jauh dari TKP jatuhku tadi. Pikiran itu membuatku malu sekaligus kesal setengah mati karena kaktus itu jelas menonton semua adegan jatuhku dari awal sampai akhir, namun ia hanya berdiri saja di sana seolah menertawakanku.

Bapak guru bahasa Indonesiaku yang baik hati itu lalu segera memerintahkan seksi PMR di kelas kami untuk mengobatiku. Dengan patuh sang petugas PMR yang kebetulan namanya mirip denganku, yaitu Nova, segera pergi ke UKS untuk mengambil obat-obatan yang diperlukan. Ketika ia datang lagi ke kelas ia langsung membersihkan lukaku dengan cairan alkohol, lalu dibubuhkannya obat luka banyak-banyak. Aku sangat berterimakasih. Rasa perih di lututku itu agak berkurang sehingga tidak terlalu mengganggu lagi. Terima kasih ya sobatku yang cantik. Namun sama seperti teman-teman lainnya yang kini bagaikan ditelan bumi, ia pun sudah tidak tentu lagi rimbanya.

Kali lainnya lagi aku jatuh dari ankutan umum. Bagaimana sih ceritanya? Hehehe, tenang saja. Tidak terlalu parah kok karena angkutan umum itu sedang dalam keadaan berhenti. Ceritanya begini, saat itu pelajaran sekolah untuk hari itu sudah selesai. Aku dan teman-temanku segera keluar kelas untuk pulang ke rumah. Sudah banyak angkutan umum yang berderet di depan sekolah untuk mengantar para siswa pulang (dengan ongkos jalan tentunya, hehehe). Kucari angkutan yang menuju ke jurusan rumahku lalu aku naik. Ketika mobil berhenti di perhentian di dekat rumahku mendadak kakiku terasa lemas sehingga saat turun dari mobil rasanya tidak menapak permukaan jalan. Tubuhku yang kehilangan topangan kedua kaki pun langsung terjerembab ke atas jalanan berkerikil dengan posisi muka lebih dulu. Spontan orang-orang yang melihat kejadian itu menolongku. Aku kembali didudukkan di dalam mobil . Pak supir yang baik hati lantas menanyakan letak rumahku. Sementara mobil berjalan aku yang pada waktu itu belum menjadi seorang tunanetra mencuri pandang ke arah kaca spion dan betapa terkejutnya aku melihat pemandangan yang tersaji di permukaannya. Mukaku lebam dan ada bagian yang berdarah. How come? Padahal aku tidak terlalu merasa sakit. Setelah kuperhatikan pantas saja tidak sakit. Luka itu letaknya di dekat mata sebelah kanan. Dari dulu syaraf-syaraf tubuhku yang sebelah kanan memang tidak berkembang sebaik yang kiri. Begitu pula dengan kepekaannya sehingga sekarang bila aku membaca dengan braille aku menggunakan tangan kiri karena lebih peka.

Sejak saat itu orang tuaku memutuskan untuk mengantarku ke sekolah setiap hari. Namun tidak lama kemudian terpaksalah aku absen dari sekolah karena kepalaku mulai sakit sehingga tidak mampu lagi berjalan jauh dan mengikuti kegiatan-kegiatan di sekolah.  Bukan itu saja, penglihatanku pun mulai mengabur sehingga pada suatu saat orang tuaku membawaku ke dokter spesialis mata. Namun setelah melihat kondisiku dokter menganjurkan agar kami berkonsultasi ke dokter spesialis bedah syaraf yang pernah menangani operasiku  pada saat usiaku sembilan tahun. Mendengarnya, aku agak kesal. Masa Cuma begini saja sudah curiga sama tumorku sih? Malas sekali aku ke dokter bedah syaraf (Hehehe, sebagaimana lazimnya orang yang tidak terlalu peduli pada kondisinya. Tentu saja aku yang tidak berpikir ke arah sana menjadi kaget). Selain itu terselip juga kekhawatiran yang tidak sempat terlintas di benakku waktu umur sembilan tahun. Bagaimana kalau aku harus dioperasi lagi? Bagaimana jika aku harus tinggal di rumah sakit dalam waktu lama seperti saat itu? Apakah penglihatanku bisa kembali normal setelah operasi? Pertanyaan yang terakhir ini pun kujawab dengan sok tahu. Bisa!

Maka dengan berbekal keyakinan bahwa penglihatanku akan kembali normal setelah operasi aku berangkat ke tempat praktek dokter itu. Setelah menjalani serangkaian tes dan juga difoto dengan MRI akhirnya diperoleh keputusan yang sudah kuduga sebelumnya. Aku harus operasi lagi. Tumor yang bersarang di otakku ternyata sudah sejak lama mengeluarkan cairan pekat yang kini menekan syaraf penglihatan. Bila dibiarkan tekanan itu akan semakin besar seiring dengan makin banyaknya jumlah cairan yang dikeluarkan si teroris yang terbilang cukup jinak tersebut. Hehehe, bagaimana tidak? Pertumbuhannya yang lambat membuatnya mendapat predikat jinak meski kalau sudah kambuh rasanya sangat aduhai.

Yups, itulah yang terjadi. Aku diinapkan di rumah sakit. Kepalaku digunduli untuk persiapan operasi. Malangnya, dokterku yang terhitung sudah senior itu sakit dan harus dirawat di rumah sakit pula. Sempat terjadi kebingungan pada saat itu namun untung segera ada dokter pengganti. Namun aku sangat kecewa karena penglihatanku masih tetap seperti itu. Hingga akhirnya dokter menjelaskan bahwa syaraf yang sempat terhimpit itu memerlukan waktu untuk pulih seperti sediakala. Untuk itu aku mesti sabar. Tapi tentu saja tidak semudah itu. Kutahan kemarahan bercampur kecewa plus kesal yang hampir meledak di benakku karena aku tahu ucapan dokter itu benar, jadi tidak akan ada gunanya bila aku marah-marah karena itu toh tidak akan memperbaiki keadaan. Malah mungkin aku akan capek sendiri jika menuruti nafsu untuk marah tersebut.

Hari-hari yang kulewati di rumah sakit rasanya panjang sekali. Kejenuhan merambat dengan pasti karena aku tidak bisa lagi membaca untuk menghabiskan waktu. Namun Allah memang Maha Kuasa. Dalam keadaan yang entah sadar atau tidak aku diberi macam-macam penglihatan yang mau tidak mau membuatku terhibur dan fresh . (aku sendiri tidak tahu apakah itu halusinasi atau mimpi, yang jelas disyukuri aza deh! Hehehe.). Bermacam gambar yang pernah kulihat di buku cerita dan majalah silih berganti muncul (entah di dalam kepalaku atau di mata, I didn’t know exactly). Pernah pula aku merasa seperti berdiri di sebuah lapangan terbuka namun di sekelilingku udara amat berkabut. Di sela-sela kabut itu kuliha seorang pemuda tengah mengendarai sapu. Hehehe, Subhanallah. Mungkin aku tersedot ke dunia Harry Potter ketika itu. Khayalan yang agak keterlaluan, tapi mengingat bahwa itu di luar kendaliku maka aku tidak bisa disalahkan dong, hehehe.

Selain itu ada juga hal yang bila kuingat kembali sangat membuatku terharu. Yaitu saat aku merasa tercebur dalam sebuah kenangan manis. Awalnya aku tidak melihat apa-apa namun telingaku mendengar sayup-sayup suara orang sedang membersihkan beras dengan tampah yang diayunkan ke atas dan ke bawah. Maka beras yang ada dalam tampah itu akan terlempar ke atas namun segera jatuh kembali ke tampah saat diayun turun. Mendadak segalanya menjadi terang. Aku melihat rumah tetanggaku. Di depan rumah kulihat istri tetanggaku yang sebenarnya saat itu sudah meninggal sedang membersihkan beras dengan cara itu. Suasana saat itu terlihat seperti aslinya yaitu saat aku masih seorang siswa SD. Beras yang berjatuhan dari tampah yang dipegang  istri tetanggaku yang biasa kupanggil dengan sebutan Mbah Putri itu berjatuhan ke tanah dan dipatuki oleh beberapa ekor ayam kate yang dulu dipelihara Mbah Putri di rumahnya. Di sudut depan halaman ada sebuah kandang yang tidak terlalu besar berisi beberapa ekor merpati dan dederuk. Ah, benar-benar mengharukan. Mbah Putri sangat baik padaku. Beliau pandai memasak, namun yang paling kusukai adalah tempe goreng buatan beliau. Dulu aku sering meminta tempe goreng kepada beliau dan tidak jarang pula jika aku sedang bermain bersama cucunya yang kadang-kadang datang ke sana beliau mengajakku makan bersama. Sungguh kenangan yang manis. Sekarang tidak pernah lagi kujumpai tempe goreng selezat buatan Mbah Putri. Hiks, hiks, sudah dulu ya catatannya buat hari ini? Lain kali munkin akan kusambung lagi. Maaf kalau kalimat-kalimatnya rada lebay, hehehe. See you later.

Senin, 17 Oktober 2011

Cerita Q(1)


Pagi yang indah ya, kendati pun langit agak mendung seperti kemarin. Mungkin hujan yang mengguyur kota Subang dua hari yang lalu itu masih ingin meninggalkan jejak berupa warna kelabu di awan. Seperti biasa aku memulai kegiatanku dengan mandi pagi yang hampir selalu kulakukan langsung setelah bangun pagi.  Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, jadi aku selalu merasa nggak nyaman kalau nggak mandi cepat-cepat setelah bangun tidur. Seperti biasa otakku yang segar setelah diistirahatkan semalaman mulai berkicau. Mungkin karena sudah kebiasaan pulalah jadi aku nggak sampai hati untuk menyuruhnya diam. Sehingga bisa ditebak bahwa di antara guyuran air di kamar mandi aku memutar kembali rekaman-rekaman peristiwa yang tersimpan di kepalaku.

Salah satunya adalah ajakan yang kuterima kemarin dari salah satu temanku untuk menulis semacam otobiografi. Ajakan yang tertuang dalam sebuah pesan singkat alias SMS itu membangkitkan sebuah ide. Kenapa tidak? Rasanya aku bisa menuliskannya menjadi sesuatu yang menarik, setidaknya bagi diriku pribadi. Mungkin akan ada yang menganggap pikiranku ini terlalu narsis ya. Tapi bukankah orang harus selalu memulai langkah yang besar dari garis start? Kalau nggak dimulai bisa-bisa kisah hidup seorang Chrysanova ini lambat laun akan musnah terkikis zaman.

Mungkin aku mulai dari yang kecil-kecil dulu saja dan nggak dari awal. Habis kalau mau diurutkan berdasarkan kronologisnya rasanya susah banget. Iya nggak? Hal yang ingin sekali kuceritakan dan mungkin ingin pula diketahui oleh temanku itu adalah kisah asal-usul why I become blind.

Mungkin aku mesti mulai dari tahun terakhirku di SMP. Waktu itu aku lagi menempuh persiapan ujian. Ujian akhir ini ibarat tiang gantungan,  karena dialah penentu seluruh hidupku ke depan. Apakah aku bisa melanjutkan pendidikanku? Begitulah, hari demi hari kulewati dengan serangkaian try out. Tidak ada waktu untuk berpangku tangan. Apalagi bagiku yang sejak kecil memang sudah dibiasakan dengan semangat juang 45 untuk menuntut ilmu. Malam-malam harinya selalu diwarnai oleh segunung buku.  Tidak, barangkali nggak sampai segunung. Aku minta maaf karena kadang aku terlalu lebay. Tapi ini kan Cuma penggambaran sekilas aza agar bisa dibayangkan seperti apa aku waktu itu yang tentunya sangat berbeda dengan sekarang (tapi semangat 45-nya Insya Allah tetap ada dong! Itu wajib bagi seluruh anak bangsa Indonesia,  he). Sorry, kalau sudah nulis seperti ini aku sering melantur. Baik, kita kembali lagi ke jalur utama.

Kira-kira pada waktu bergulat dengan try out itulah tragedi mulai menghadang. Soal-soal yang tertulis di kertas putih itu acapkali menghilang secara mendadak dari pandangan, namun akan segera muncul kembali beberapa saat kemudian. Demikianlah, kukira tumor yang bersarang di otakku sudah mulai mempermainkan mataku ketika itu. Kejadian seperti itu terus saja berulang hingga akhirnya aku lulus. Namun sayang seribu sayang nilaiku tidak terlalu memuaskan saat itu. Aku sendiri kaget melihat kenyataan itu. How can it be? Padahal aku ini sempat merebut juara umum saat duduk di kelas dua.

Aku masuk SMA. Hal itu sangat kusyukuri karena sekolah menengah atasku itu adalah sebuah SMA favorit di kotaku. Betapapun aku kecewa karena nilai ujianku tidak terlalu sesuai harapan, tapi toh masih cukup untuk mengantarku masuk SMA favorit. Harus kuakui, masa itu adalah masa yang berat. Agak sulit bagiku menerima pelajaran-pelajaran baru, apalagi mata pelajaran yang memang sudah terhitung musuh besar bagi mayoritas siswa seperti matematika. Kalau sekarang ini aku menengok ke masa itu aku punya kecurigaan besar bahwa benda asing di dalam kepalaku itu turut andil mengacaukan proses belajarku. Namun di luar itu semua tidak bisa dipungkiri bahwa saat itu adalah salah satu kenangan terindah dalam hidupku. Aku berkesempatan untuk mengenal dunia yang lebih luas daripada yang kukenal di SMP. Teman-teman sekelasku baik-baik. Aku tidak sempat mengenal semua teman yang duduk di kelas lain, tapi aku cukup puas karena dunia SMA memberikan hal baru bagi otak mudaku kala itu.

Namun seperti yang mungkin sudah diketahui banyak orang yang sudah mengenalku bahwa aku tidak lama berada di SMA. Dari bulan pertama aku di sana kondisiku sudah menunjukkan penurunan. Kendati demikian hal itu tidak terlalu kelihatan mencolok sehingga aku tetap saja menjalani semua aktivitas seperti biasa. Olahraga tetap nekat kuikuti kendatipun guru olahragaku sudah melarangku ikut kegiatan yang terbilang berat. Ini tentu karena beliau tahu riwayat kesehatanku yang mencatat bahwa ada tumor yang menumpang hidup di batang otakku. Seperti benalu di batang pohon. Yeah, mungkin itulah perumpamaan yang paling tepat mengingat bahwa kehadiran benda itu sempat mengganggu kerja pusat pengendali kegiatan tubuh itu.

Bahkan pernah ketika penyakit itu kambuh pada saat usiaku beru menginjak sembilan tahun, aku yang sudah dalam keadaan tidak berdaya sehingga hanya berbaring di tempat tidur itu tidak bisa bernapas. Aku yang sudah merasakan pusing di kepalaku sejak lama terpaksa minta izin sakit dari sekolah dasar tempatku belajar. Saat itu aku baru duduk di kelas empat SD. Waktu itu aku tidak mengerti benar apa yang terjadi pada tubuhku. Kepalaku sangat sakit sehingga aku hanya bisa berbaring di tempat tidur. Berdiri pun aku harus dipegangi agar tidak jatuh. Rasanya tubuhku lemas dan kepalaku sakit sekali. Berhari-hari kulewatkan waktuku dengan berbaring di tempat tidur. Maaf, karena kejadian tersebut sudah lama berlalu maka aku sudah lupa lagi detailnya.

Pendek kata, tibalah malam itu. Aku yang masih tergolek di ranjang sedang disuapi oleh ibuku. Saat itu aku nyaris tidak bisa merasakan makanan yang masuk ke mulutku dan apakah aku menelannya atau tidak. Tiba-tiba aku tersedak. Aku hanya tahu apa yang terjadi setelah itu dari cerita yang disampaikan keluargaku. Ketika tersadar aku mendapati diriku sudah berada di tempat lain. Suasananya sangat asing dan aroma yang menguar di udara juga aneh, tidak seperti di kamarku sendiri. Saat itu ada seseorang yang berdiri di samping tempat tidurku. Aku bertanya di mana ini dan ia menjawab bahwa ini di rumah sakit.

Belakangan baru aku tahu apa yang terjadi di malam saat aku dibawa ke sini. Makanan yang kumakan waktu itu tersesat jalan sehingga ia masuk ke tenggorokan bukannya ke jalan yang semestinya yaitu lewat kerongkongan lalu ke lambung. Praktis, makanan yang sudah tersesat itu masuk ke paru-paru dan menghalangi oksigen untuk masuk. That’s why I didn’t know what happened around me. Aku kehilangan kesadaranku selama beberapa waktu yang tidak kuketahui dengan pasti berapa lama.

Kini bila aku teringat lagi tentang itu aku sering tertawa sendiri. Aku yang masih berumur sembilan tahun tidak merasa takut, bosan atau benci. Namanya juga anak kecil ya? Sehingga selama dua bulan aku berada di sana aku nyaris terbiasa sehingga mulai menikmati suasana. Sering juga sih aku deg-degan kalau perawat datang membawa jarum suntik atau jarum infus baru.  Bayangan sebuah jarum yang menembus kulit itu cukup untuk membuat tangan dan kakiku dingin dan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. Namun aku menurut saja karena aku tahu itu harus dilakukan. Aku tidak bisa menolak. Jangka waktu perawatanku yang lumayan panjang membuat infus itu harus sering diganti dan dipindah tempatnya. Oh iya, yang lebih seru lagi kepalaku tentu saja digunduli. Lalu setelah operasi aku menjalani masa pemulihan dengan membaca. Rupanya hobi yang sudah mendarah daging itu tidak mau menunggu sampai aku pulang ke rumah.  Aku yang merasa sudah membaik pada waktu itu langsung minta dibelikan buku-buku kepada orangtuaku. Tentu saja Cuma buku bacaan ringan seperti buku cerita karangan HC. Andersen dan komik-komik Dora Emon. Juga novel-novel Lima Sekawan atau Trio Detektif. Buku-buku itu sangat efektif membunuh kebosananku. Dan yang lebih asyik lagi tentu makanan.  I didn’t know why, selama masa pemulihan itu makanan apapun yang masuk ke mulutku rasanya enak.  Wajarlah. Kalau sudah sehat pasti semua terasa enak.

Aku tidak pernah menduga bahwa apa yang pernah kualami pada usia sembilan tahun itu akan terulang lagi. Pada usia lima belas tahun, yaitu beberapa bulan setelah masuk SMA kondisiku terus menurun. Pada mulanya aku tidak berpikir bahwa penurunan itu bersumber dari tumorku yang
 Masih betah menghuni kepalaku. Dokter memang tidak mengangkat keseluruhannya dengan mempertimbangkan letaknya di batang otak yang merupakan daerah rawan. Waktu itu letaknya sudah sedemikian melekat sehingga dikhawatirkan jika diangkat seluruhnya akan mengganggu jaringan di sekelilingnya. Wujud dari penurunan kesehatanku itu antara lain terlihat dengan terganggunya keseimbangan tubuhku. Aku mulai sering jatuh dan jalanku pun terhuyung-huyung sehingga teman-teman sekelasku yang baik hati selalu menjagaku ke mana pun aku pergi di kompleks sekolah. Mereka juga tidak segan menuntunku bila dalam pelajaran olahraga kami harus pergi keluar gerbang sekolah.

Bukti lainnya lagi dari kebaikan dan besarnya perhatian dari teman-teman sekelasku pada waktu itu adalah saat kejadian yang agak memalukan terjadi. Saat itu aku pergi ke sekolah dengan membawa banyak buku sesuai jumlah pelajaran hari itu. Maka aku pergi ke sekolah dengan menggendong tas besar yang lumayan berat, namun perjalanan yang kutempuh dengan angkutan umum membuat beratnya tidak terasa. Barulah setelah turun dari angkutan aku merasa beban di punggungku itu berat sekali. Maka terpaksalah aku terseok-seok dari pintu gerbang sekolah sampai ke kelasku yang terletak di seberang lapangan upacara. Sehingga pada saat melewati ambang pintu kelas keseimbanganku benar-benar hilang. Tanpa bisa ditahan lagi aku jatuh tertelungkup. Untung belum ada guru yang datang sehingga mukaku dapat terselamatkan. Spontan seisi kelas menghampiriku. Mereka membantuku berjalan ke bangku sedangkan yang lainnya membawakan tasku ke meja. That’s very nice of them. Mereka baik sekali sehingga tidak bisa kulupakan hingga sekarang walaupun jalannya nasib yang berbeda membuat kami semakin jauh dan akhirnya tidak kuketahui lagi kabar mereka.